Ucapan Natal 2014 dan Tahun Baru 2015

Peringatan kelahiran Kristus sering dihubungkan dengan kata inkarnasi Allah di tengah kehidupan manusia. Inkarnasi Allah dalam tradisi Kristen merupakan bagian yang sukar dibayangkan oleh mereka yang hidup dalam tradisi Yahudi ataupun Islam, namun menjadi suatu bagian pondasi teologis kehadiran Yesus sebagai Juruselamat yang menyelamatkan hidup manusia. Paulus mengungkapkan pondasi itu saat ia menuliskan bahwa Allah telah mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia dalam kerendahan dan ketaatan hingga mati di kayu salib (Flp 2:7-8). Di bagian lain dari PB, Injil Yohanes sendiri menyatakan bahwa Firman (atau Logos) yang adalah Allah telah menjadi manusia dan hidup di antara manusia (Yoh 1:1, 14). Tradisi Yahudi dan Islam sulit menerima gambaran inkarnasi yang ditafsirkan sebagai Allah yang menjadi manusia. Walaupun tidak mengingkari kemahakuasaan Allah yang berkehendak tanpa dapat diintervensi manusia, tradisi Yahudi dan Islam sulit menerima zat Allah yang suci, kudus, dan sempurna itu akan masuk dalam dunia dan mengambil tubuh manusia yang fana dan tidak sempurna. Itu sebabnya tradisi Yahudi ketika menggambarkan diri sang mesias atau tradisi Islam saat menggambarkan Yesus atau Isa dan imam mahdi memilih sosok manusia murni yang diberi kuasa oleh Allah untuk menyelamatkan umat-Nya sebagai figur dan bukan Allah yang menjadi manusia. Akibatnya pembicaraan tentang inkarnasi Allah sering dianggap sebagai tembok pemisah antara Kristen dengan Yahudi dan Islam dalam ranah teologi.

Pandangan tentang inkarnasi Allah merupakan sesuatu yang dibicarakan belakangan daripada pengakuan awal orang Kristen tentang Mesias dan ini berangkat dari pengaruh Yunani yang kuat (Oskar Skarsaune, Incarnation: Myth or fact?, 25). Faktanya banyak orang Kristen yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya orang Kristen sendiri mengalami perpecahan ketika membicarakan tentang inkarnasi Allah ini, terutama ketika berbicara tentang sosok Yesus. Apakah dia Allah atau manusia, atau keduanya? Jika Yesus adalah Allah dan manusia, bagaimana kita menjelaskannya? Itulah perdebatan yang ramai diangkat para teolog dalam berbagai latar belakang gereja yang menjadi inti pembahasan dalam Konsili Nicea (325), Kostantinopel (381), Efesus (431), dan Chalcedon (451). Semua rumusan tentang diri Yesus sebagai wujud inkarnasi Allah dikuatkan dalam semua konsili oikumenis ini, namun sesungguhnya kita tidak dapat menyatakan bahwa pembahasan tentang inkarnasi Allah sudah selesai. Keunikan terjadi ketika orang mempersoalkan penggunaan ikon dalam ibadah di gereja karena dianggap bertentangan dengan hukum kedua yang Allah sampaikan pada Musa dan orang Israel yang melarang umat-Nya untuk membuat patung yang menyerupai apapun dan menyembah kepadanya (Kel 20:4-5), John of Damascus (657-749) justru membela dengan mengatakan bahwa Allah telah menyatakan diri secara jasmani dan tinggal dengan manusia. Dengan demikian gambar Allah nyata dapat dilihat dan itu, menurut John of Damascus, ada dalam ikon (Alister E. McGrath, The Christian Theology Reader, 287). Tindakan John of Damascus untuk menjelaskan kembali tentang inkarnasi Allah itu merupakan bukti bahwa persoalannya masih jauh dari selesai. Hal ini tentu membuka ruang bagi munculnya pemahaman-pemahaman teologis yang baru tentang inkarnasi Allah.

Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari usaha untuk menampilkan pemahaman alternatif tentang inkarnasi Allah yang dapat menjadi jembatan antara kekristenan dengan Yahudi dan Islam. Hal pertama yang harus dilakukan adalah melihat kesalahan cara pandang kita dalam memahami tentang inkarnasi Allah. Inkarnasi Allah dalam peristiwa Natal sering dianggap sebagai bagian dari peristiwa sejarah yang harus terjadi. Selama beratus atau ribuan tahun gereja membangun pemahaman bahwa kehadiran Allah di dalam diri Yesus sudah ditandai dalam beragam nubuat yang diucapkan sebelumnya dalam Perjanjian Lama. Salah satu contoh nubuat yang terkenal karena sering dijadikan ayat hafalan anak-anak sekolah Minggu adalah Yesaya 9:5 tentang seorang anak yang lahir dengan keistimewaan karena lambang pemerintahan ada di atas bahunya dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Kehadiran Yesus dianggap menggenapi nubuat itu. Klaim ini tentu masih harus diuji dalam ranah biblika.

Saya ingin mengajak kita untuk melihat alternatif cara pandang terhadap hal ini. Firman Tuhan dalam kitab Yesaya itu sebenarnya bisa ditafsirkan sebagai bentuk alternatif inkarnasi Allah. Sesuai dengan konteks sejarah, saat itu umat Israel sedang bergumul menghadapi ancaman serangan Asyur. Mereka sedang membutuhkan pertolongan dari Allah dan itu harus dalam waktu yang pendek. Ancaman Asyur tidak memberi ruang pada orang Israel untuk mengharapkan pertolongan yang sifatnya membutuhkan waktu yang panjang. Kita melihat Allah lalu menawarkan untuk menghadirkan seorang tokoh yang akan diberikan atau diangkat sebagai penolong bagi mereka. Itulah bentuk inkarnasi Allah dalam sejarah manusia. Dengan demikian kita dapat melihat bahwa inkarnasi Allah tidak dapat dibatasi waktu dan itu dilakukan dengan cara mengangkat orang-orang pilihan untuk melaksanakan misi Allah di dalam sejarah manusia. Ini bisa berlaku untuk siapa saja. Siapapun yang melaksanakan kehendak Allah, maka ia adalah inkarnasi Allah. Inkarnasi Allah sebaiknya tidak kita terjemahkan secara sempit sebagai Allah yang menjadi manusia, namun Allah yang bekerja di tengah manusia melalui orang-orang yang dipilih dalam konteks sejarah manusia yang terus berjalan tanpa berhenti.

Penyertaan Kristus di tengah kehidupan manusia itu juga yang kemudian menginspirasi Ernesto “Che” Guevara terlibat dalam revolusi di Kuba pada tahun 1950-an. Propaganda Amerika membuatnya digambarkan sebagai sosok komunis yang ateis. Padahal tidak banyak yang tahu bahwa Ernesto “Che” Guevara adalah seorang penganut Katolik yang taat. Sebelum berangkat ke Kuba, ia mengatakan pada salah seorang sahabatnya, “Jika Allah saja melalui diri Yesus Kristus solider di tengah hidup manusia, mengapa aku tidak mengikuti-Nya? Ia berpihak pada mereka yang tertindas. Para petani yang dirampas tanahnya dan mereka yang miskin tak berdaya. Kamerad, jika jiwa Allah saja diserahkan untuk tujuan itu, mengapa aku tidak mengikuti-Nya?” (Michael Valiant, Che Guevara dan Pandangan Keagamaannya, 56). Hal ini menjadikan dirinya adalah inkarnasi Allah.

Hal kedua adalah sudah lama sekali pandangan tentang inkarnasi Allah banyak disalahartikan sebagai tindakan Allah yang turut campur dalam sejarah manusia. Allah dipandang sebagai pemain tunggal dalam sejarah keselamatan dan manusia hanya pasif sebagai penerima tanpa memainkan peran yang penting di dalamnya. Padahal inkarnasi Allah seharusnya dilihat sebagai tindakan Allah yang masuk atau terjun ke dalam sejarah manusia. Ia melebur dalam hidup dan kebiasaan manusia. Hal yang sering dilupakan oleh kita bahwa sejarah adalah milik manusia. Itu sebabnya Ia juga menjadi Allah yang menyatu dengan perjalanan sejarah manusia. Manusia yang memegang peranan penting dalam sejarah. Hal ini bisa menjadi dasar kita untuk memahami inkarnasi Allah yang terjadi dalam peristiwa Natal. Allah bukan pemain tunggal dan bukan penentu karena Ia masih terbuka menyerahkan pilihan pada manusia.

Thomas F. Torrance, dalam bukunya The Trinitarian Faith (1988), mengatakan: “The incarnation, far from being some sort of docetic epiphany of God the Son in the flesh, involves the full reality and integrity of human and creaturely being in space and time. The immediate focus is undoubtedly centred on the human agency of the incarnate Son within the essential conditions of actual historical human existence, and therefore on the undiminished actuality of the whole historical Jesus Christ who was born of Virgin Mary, sufferred under Pontius Pilate, was crucified and buried, and rose again from the dead.” (Alister McGrath, The Christian Theology Reader, 326). Hal ini menunjukkan bagaimana kemanusiaan Yesus yang historis itu adalah bagian dari inkarnasi Allah yang berperan penting dalam misi keselamatan. Ini adalah misi Allah untuk menunjukkan keseriusan-Nya untuk mewujudkan kasih di tengah kehidupan manusia. Yesus menderita dan mati di kayu salib sebagai ganti Allah untuk melaksanakan misi-Nya menebus dosa-dosa manusia. Allah memilih kemanusiaan Yesus sebagai inkarnasi-Nya.

Inkarnasi Allah memerlukan pandangan baru yang tidak menyempitkan diri pada satu penafsiran yang menempatkan Yesus adalah inkarnasi tunggal Allah. Pada bagian inilah pemahaman Kristen, Yahudi, dan Islam mencapai titik temu yang sama tentang Allah yang hadir di tengah kehidupan manusia. Kehadiran Yesus adalah bukti dari bagian tanda kasih Allah bagi manusia, namun bukan satu-satunya. Konsistensi Allah dalam hal ini adalah tindakan-Nya untuk melibatkan manusia dalam setiap misi di tengah sejarah.

Konteks sejarah manusia masih dipenuhi dengan beragam persoalan yang semakin rumit. Manusia belum mampu mengatasi berbagai persoalan yang nyata di tengah dunia. Manusia tentu saja tidak dapat mengatasi semua persoalan ini sendirian. Pada titik inilah inkarnasi Allah masih terjadi dan diperlukan manusia. Inkarnasi Allah diperlukan untuk mencegah manusia terjebak dalam kesombongan bila berhasil dan keputusasaan bila gagal. Allah dan manusia menjadi mitra yang saling mendukung dalam solidaritas sejarah. Namun sayangnya manusia justru sering menempatkan Allah sebagai mitra yang menjadi pesaing manusia. Itulah kecenderungan yang dicatat Nietzsche ketika ia menyatakan manusia sesungguhnya tidak membutuhkan Allah dalam kematian-Nya (F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche, 280). Walau Nietzsche dianggap sebagai seorang ateis karena pernyataannya itu, namun sangat ironis orang-orang yang beragama dan mengaku hidup beragama justru mempraktikkan kata-kata Nietzsche itu dengan melupakan Allah dalam praktik kehidupan mereka. Tindakan korupsi, menindas sesama yang lemah, merusak hutan, dan perbuatan jahat lainnya tanpa malu dilakukan.

Inkarnasi Allah di dalam peristiwa Natal merupakan sebuah ajakan untuk bersatu kembali dalam solidaritas sejarah manusia. Allah mengingatkan manusia bahwa mereka yang harus berperan untuk membangun sejarah manusia menuju pada arah yang lebih baik, bukan justru malah menghancurkannya. Inilah tanggungjawab kita bersama dalam kehadiran Allah yang nyata menyertai kita. Allah berinkarnasi dalam diri kita masing-masing untuk mewujudkan karya membangun hidup manusia yang lebih baik. Jika itu terjadi, maka terwujudlah Kerajaan Allah dengan semboyannya: Damai di surga dan damai di bumi. Inilah cara kita untuk merayakan Natal karena Natal adalah peringatan atas sikap solidaritas Allah di tengah sejarah manusia yang tidak pernah berhenti dalam konteks pergumulan apapun. Dia adalah Allah yang menyertai kita senantiasa. Selamat Natal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *