
Pada Senin, 24 Februari 2025, Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta menerima kedatangan Bpk. Maruarar Sirait, S.I.P (Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Republik Indonesia) di Ruang Rapat lt.2, Kampus STFT Jakarta. Di dalam pertemuan ini, turut hadir Pdt. Dr. (HC) Jacklevyn “Jacky” Frits Manuputty, M.Th. (Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia dan Alumni STFT Jakarta). Kedatangan dua tokoh ini dalam rangka dialog berjudul “Bincang-Bincang dengan Bang Ara”.
Kedatangan Bpk. Maruarar Sirait & Pdt. Jacky Manuputty disambut oleh Pdt. Prof. Binsar J. Pakpahan, Ph.D (Ketua STFT Jakarta); Pdt. Agustinus Setiawidi, Th.D. (Wakil Ketua Bidang Akademik); Bpk. Felix J. Lawalata (Wakil Ketua Bidang Administrasi Umum dan Keuangan); Pdt. Rahel Daulay, D.W.S (Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan); Pdt. Ester Pudjo Widiasih, Ph.D. (Formator Spiritual Ekumenis); Renny M. Tobing (Kepala Bidang Administrasi Institusi dan Sekretaris Ketua); bersama beberapa karyawan dan perwakilan mahasiswa yang terdiri dari anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), mahasiswa prodi sarjana, dan doktor teologi.

Pertemuan dialog ini dilakukan sambil menikmati suguhan nasi goreng yang dibawa oleh Bpk. Maruarar Sirait. Pada awal dialog, Pdt. Jacky Manuputty menyebutkan bahwa percakapan mengenai gereja dan lembaga-lembaga Kekristenan di Indonesia untuk menyalurkan kader tokoh di ruang publik dan perlu untuk terus dikawal. Selanjutnya Bpk. Maruarar memberikan pandangan pentingnya berfokus pada pengembangan sumber daya manusia. Ia melihat bahwa saat ini, lembaga-lembaga Kristen perlu melahirkan calon-calon pemimpin yang cakap dan berintegritas. Oleh karena itu, Bpk. Maruarar menegaskan komitmen untuk mendukung calon-calon pemimpin Gereja yang memiliki karakter ketaatan akan Firman Tuhan, berani ke lapangan dan terjun di masyarakat, serta mampu berkonsolidasi lintas agama.
Dalam kesempatan kali ini, Bpk. Maruarar menjelaskan sebagai masyarakat Indonesia yang hidup dalam keberagaman agama, para pemimpin di masyarakat perlu untuk berkolaborasi untuk saling tolong-menolong dan membangun. Para calon pemimpin ini nantinya haris dapat menjadi teladan di masyarkat dengan menunjukan kegigihan dan mewujudkan keadilan. “Tokoh agama harus punya aksi nyata, tidak hanya teori belaka,” ungkapnya.
Di dalam percakapan ini juga dibuka kesempatan untuk beberapa orang yang ingin bertanya kepada Bpk. Maruarar Sirait. Pertama dari Sdr. Philip B. Manurung (Mahasiswa Prodi Doktor Teologi), menanyakan mengenai bagaimana strategi Bpk. Maruarar di tengah efisiensi yang sedang diterapkan oleh pemerintah, di tengah target yang ditugaskan untuknya merenovasi dan membangun tiga juta rumah. Bpk. Maruarar menjawab dengan menyatakan pentingnya untuk memiliki networking. Tidak hanya mengandalkan anggaran dari pemerintah, tetapi juga bekerja untuk mencari investasi secara mandiri. “Tidak boleh hanya pasrah, tetapi harus berusaha dan bersandar pada Tuhan. Berpikir tidak seperti orang biasa, bertindak tidak seperti orang biasa.” jelas Bpk. Maruarar.
Pertanyaan selanjutnya dari Ketua BEM STFT Jakarta, Sdr. Valent Pakpahan, menanyakan tentang pesan Bpk. Maruarar ke anak-anak muda. Beliau menjelaskan sebagai anak muda harus menjadi yang terbaik, jangan pernah ada celah dan kompromi dengan masalah. “Anak muda harus berani untuk terjun langsung ke masyarakat dan berani untuk membawa kebenaran.” tegasnya. Ia juga menceritakan bahwa dalam mengambil keputusan perlu untuk selalu berdoa, berkaca dari pengalamannya untuk membangun rumah-rumah subsidi untuk rakyat yang memerlukan keberanian menindak mitra-mitra yang bekerja tidak baik dan korupsi.
Kemudian dari Ketua DPM STFT Jakarta, Sdr. Stanley tentang pengalamannya menggunakan Rusunawa Pasar Rumput yang cukup menolong dirinya karena biaya yang terjangkau. Bpk. Maruarar kemudian menawarkan bantuan memberikan akses ke lima unit Rusunawa Pasar Rumput untuk mahasiswa dan dosen STFT Jakarta. Di kesempatan pertanyaan terakhir dari seorang mahasiswi Prodi Doktor, menceritakan bahwa di daerah tempat asalnya di Sumba, Nusa Tenggara Tengah masih banyak pembangunan yang terbengkalai. Alasan yang didapat adalah akibat transisi pemerintahan. Menanggapi pertanyaan ini, Bpk. Maruarar Sirait menjelaskan salah satu alasan perhatiannya untuk mencetak calon-calon pemimpin dalam masyarakat berkaitan dengan masalah-masalah seperti ini. Ia melihat perlunya pemimpin yang memiliki kedekatan dengan Tuhan dan bersedia terjun menyelesaikan masalah-masalah di masyarakat. Baginya, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk menentukan tujuan, menganalisis masalah, memiliki strategi, dan mampu memilih orang-orang yang tepat.