Oleh: Joas Adiprasetya

Jakarta, Indonesia

Sumber: A Story from Jakarta Theological Seminary dalam In a Time Like This | Vancouver School of Theology (vst.edu)

Pandemi ini telah memberi dampak yang parah terhadap setiap organisasi di Indonesia. Sekolah Tinggi Filsafat dan Theologi Jakarta juga termasuk di dalamnya. Kami harus melupakan kehidupan lama kami dan mempelajari kebiasaan-kebiasaan baru. Sebagai anggota tim pengajar, Saya mensyukuri respons cepat tim pemimpin terhadap situasi yang tidak terkira ini. Izinkan saya untuk menceritakan apa yang telah kita lakukan di dalam tujuh bulan terakhir. Tentu saja, hal pertama yang kami lakukan adalah mengubah proses belajar kami dari kelas menuju media daring, tepat di pertengahan semester musim semi lalu. Perubahan tersebut telah menantang sebagian besar dari kami: mahasiswa, dosen, dan anggota staf. Sebagai orang yang terbiasa pada budaya tatap muka, tidaklah mudah untuk berinteraksi dengan sesama dari layar ke layar. Beberapa orang di dalam komunitas kami telah terpukul secara finansial oleh pandemic yang berkepanjangan ini. Kami bekerja sama dengan gereja-gereja pendukung untuk menyediakan kebutuhan sehari-hari, mendistribusikan bantuan finansial, tambahan uang kuliah, dan kuota internet kepada beberapa mahasiswa dan anggota staf.

Seminari kami juga menyediakan psikolog internal dan dua konselor untuk membantu mahasiswa dan anggota staf untuk membantu menghadapi persoalan kesehatan mental mereka; di dalam tujuh bulan terakhir, 35 orang telah mendapat manfaat dari pelayanan ini. Kami juga telah mempraktikkan beberapa langkah pencegahan untuk memastikan kompleks seminari dapat mempertahankan spiritnya sebagai ekologi pemberi kehidupan untuk semua orang: membangun tempat cuci tangan di depan pintu masuk untuk semua yang akan memasuki seminari, menggunakan thermometer gun di pintu masuk untuk mengecek suhu tubuh, menerapkan keharusan memakai masker dan menjaga jarak bagi semuanya, menyebarkan kesadaran melalui poster-poster di beberapa tempat, dan menyemprotkan disinfektan setiap hari ke seluruh kamus.

Sumber: Berbela Rasa di Tengah Pandemi Covid-19 – Berita STFT Jakarta

Dalam kerja sama dengan sebuah rumah sakit Kristen lokal, kami juga mendidik staf, dosen, dan mahasiswa menggunakan media Zoom untuk hidup sehat selama pandemi. Rumah sakit yang sama juga telah menyediakan tes Covid-19 gratis kepada seluruh anggota keluarga dari dosen dan staf kami. Karena guest house kami telah kosong selama berbulan-bulan, kami menggunakan kamar-kamar tersebut untuk mengakomodasi beberapa anggota staf dan alumni kami yang perlu melakukan isolasi mandiri setelah tertular Covid-19. Kami menyediakan makanan dan vitamin bagi mereka setiap hari untuk membangun sistem kekebalan tubuh mereka. Mahasiswa dan anggota staf kami juga telah membuat 5.000 face shield dan membagikannya kepada pekerja medis di daerah-daerah terpencil di negara kami.

Sumber: Menang Melawan Covid-19 – Berita STFT Jakarta

Pandemi ini juga telah mendorong kami untuk beradaptasi dengan situasi baru ini dalam banyak cara, namun kami menolak melepaskan nilai-nilai kami sebagai komunitas cinta dan solidaritas. Seminari bukanlah tempat di mana teologi semata-mata diajarkan dan dipelajari secara akademis. Seminari juga merupakan tempat di mana kita harus menghidupi teologi kita secara spiritual, kendati dalam keringkihan. Dan kami juga berdoa untuk Vancouver School of Theology agar kalian juga menerima semua karunia dan kekuatan dari Allah untuk melanjutkan pengembaraan di dalam masa-masa sulit ini.


Pdt. Joas Adiprasetya, T.hD.  adalah dosen STFT Jakarta di bidang teologi sistematika dan pendeta di Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah, Jakarta

Vancouver School of Theology dan STFT Jakarta telah mengadakan kerjasama sejak 1 Januari 2021, kami telah belajar, mengajar, menulis, dan meneliti bersama dalam pelayanan gereja secara global.

(Artikel diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Gerald Haruman Tanjung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *