Jakarta – Pada Jumat, 28 November 2025, STFT Jakarta mengadakan refleksi Akhir Pekan dalam rangka Kampanye Global 16 Days of Activism Against Gender-Based Violence 2025 yang berlangsung setiap tahun dari 25 November hingga 10 Desember. Kegiatan ini mengangkat tema besar “End Digital Violence Against All Women and Girls”, sebagai bentuk kepedulian terhadap meningkatnya kekerasan berbasis digital terhadap perempuan dan anak di era modern. Ibu Pdt. Karmila Jusup hadir sebagai narasumber utama dan membagikan pengalaman serta hasil proyek lintas negara yang ia jalankan di Indonesia, Malaysia, dan Hongkong.

Dalam pemaparannya, Pdt. Karmila menyoroti kompleksitas dalam memberantas kekerasan digital karena pelaku kerap menyebar di berbagai platform media sosial dan menggunakan identitas palsu. “Korban selalu dihantui ketakutan karena pelaku lintas batas dan identitas palsu, dan konten belum tentu bisa dihapus semua,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa kekerasan digital tidak hanya berdampak secara emosional, tetapi juga bisa berujung pada kekerasan fisik, bahkan kematian. Situasi ini menempatkan korban dalam penderitaan panjang, apalagi jika mereka tidak segera mencari bantuan.

Beliau menekankan pentingnya peran gereja untuk aktif menciptakan ruang aman dan menghentikan kekerasan berbasis digital melalui pewartaan dalam ibadah, pendidikan publik untuk pencegahan, serta menyediakan layanan pengaduan dan pemulihan bagi korban. Seruan ini menjadi ajakan nyata bagi seluruh elemen Komunitas dan Civitas STFT Jakarta itu sendiri untuk tidak tinggal diam, melainkan turut ambil bagian dalam membangun ekosistem digital yang melindungi martabat dan keselamatan Perempuan serta Anak di tengah dunia yang semakin terhubung.
