Cuaca yang kurang baik dan awal yang tebal menyebabkan pesawat sulit mendarat.
Kemudian datanglah berita: semua penerbangan dibatalkan.

Liputan27, Oksibil – Pada awal tahun 2015, utusan dari GKI di Tanah Papua datang ke STT Jakarta untuk menyampaikan undangan kepada Tim Bengkel PK (dan juga Tim PPMR) untuk mengadakan pelatihan ke Oksibil di Kabupaten Kepulauan Bintang. Dalam pertemuan ini dibicarakan waktu pelatihan dan persiapan yang perlu dilakukan. Kemudian, disepakati bersama pelatihan dilaksanakan tanggal 31 Agustus hingga 2 September 2015. Tim Mission Trip (MT) yang berangkat adalah: Ruth, Justi, Bill, David, dan Ike. Materi pelatihan sebanyak 11 koli telah terlebih dahulu dikirim via kargo ke lokasi. Tak dapat di sembunyikan adanya semangat dan antusias pada Tim MT untuk melaksanakan misi yang penuh tantangan ini, akan tetapi secara jujur juga muncul kegalauan karena baru dua minggu sebelumnya sebuah pesawat Trigana jatuh tidak jauh dari lokasi pelatihan akan diadakan. Tetapi, Tim MT tetap berangkat. Bersama dengan tim PPMR rombongan kami berjumlah 9 orang.

Lama kami menunggu di bandara Sentani tanpa kepastian kapan bisa lanjut menuju Oksibil. Cuaca yang kurang baik dan awal yang tebal menyebabkan pesawat sulit mendarat. Kemudian datanglah berita: semua penerbangan dibatalkan. Terpaksa kami menunggu di Sentani selama dua hari. Menunggu dua hari di sebuah penginapan sederhana di dekat bandara, bukanlah sebuah kegiatan yang menyenangkan. Ditambah tanpa akses wi-fi. Cuaca di Sentani juga sedang panas luar biasa.

Esok harinya, pagi-pagi benar kami sudah siap di bandara menunggu berita kalau-kalau bisa berangkat. Benar saja, kami mendapat berita, rombongan kami bisa berangkat akan tetapi hanya 6 orang saja. Berat juga meninggalkan Bill, David, dan Ike yang terpaksa kembali ke hotel. Dalam pesawat ada 16 orang saja.

Kami tiba di Oksibil, sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh pegunungan Bintang. Setelah jam 12 siang jarang-jarang pesawat bisa mendarat di sini. Akan tetapi, Oksibil tidak punya akses lain kecuali melalui udara. GKI di Tanah Papua merupakan tempat pelatihan ini diadakan. Di desa ini ada 6 denominasi gereja yang sangat akrab relasinya. Mereka adalah: gereja Katolik (yang tertua), GKI Tanah Papua, GPDI, Kemah Daud, Gereja Oikumene. Pelatihan diikuti oleh semua denominasi tersebut. Ketika kami tiba di lokasi, peserta sudah menunggu. Materi yang sudah tiba sebelumnya segera dibongkar dengan dibantu oleh ibu-ibu. Semua jadwal pelatihan kami ubah. Karena 3 orang Tim MT masih berada di Sentani, maka hanya Justi dan Ruth dengan dibantu Mulyadi menangani 120 peserta pelatihan. Peserta adalah para pelayan anak, guru sekolah, majelis, bahkan ada pak polisi juga. Dengan semangat dan gembira semua tahapan sesi di jalani. Karya pertama dapat diselesaikan dengan baik! Mereka berhasil membuat papan flanel yang dapat digunakan sebagai alat bercerita. Ekspresi sukacita di wajah tidak dapat disembunyikan. Mereka sangat bangga dengan kerjanya.

Tim Bengkel PK bersama dengan anak-anak di Oksibil

Sementara itu langit diluar awan semakin tebal , rendah dan pekat. Nampaknya seperti asap kebakaran – tapi ini benar-benar awan yang bergerak-gerak. Dingin terasa menggigit hingga tulang. Meski demikian, pelatihan tetap berlangsung dengan baik. Setiap peserta menerima materi dan alat kerja lengkap yang semuanya kami kirim dari Jakarta. Seluruh materi dimasukkan dalam tas warna-warni. Saat pelatihan terlihat seorang peserta senior yang sangat menikmati pelatihan. Senyumnya selalu tampak ketika ia bekerja. Ternyata, ia adalah seorang guru. Betul-betul mengharukan.

Puji Tuhan, pada hari berikutnya David, Bill dan Ike dapat menyusul dan tiba dengan selamat di Oksibil. Ruth dan Justi sedikit istirahat. Giliran mereka yang memimpin sesi. Pada sesi terakhir anak-anak datang dan mengikuti Ibadah Kreatif bagi anak yang dipimpin oleh Tim MT. Betapa gembiranya mereka! Setelah ibadah anak diadakan kegiatan aktivitas anak. Anak-anak dibagi dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh beberapa pendamping yang adalah peserta pelatihan. Semacam praktik kerja setelah pelatihan. Salah seorang peserta yang menjalani praktik tersebut merasa berhasil. Ia merasa sangat bersyukur telah mendapatkan pelatihan. Sekalipun amat singkat tetapi membuka mata mereka akan hal-hal baru yang dapat mereka lakukan. Kami semua bahagia baik para peserta maupun pembina.Syukur kepada Tuhan yang telah memberikan berkatNya!

Rangkaian acara tiba pada akhirnya baik pelatihan bagi pelayan anak maupun pelatihan oleh PPMR. Acara ditutup oleh pejabat yang mewakili Bupati. Beliau juga seorang peserta dikelas pelatihan transformasi konflik. Harapannya pelatihan dapat dikembangkan ke daerah-daerah lainnya. Sebelum pulang sempat menerima kunjungan dari kepala RRI setempat untuk sebuah wawancara khusus tentang STT Jakarta dan tujuan Mission Trip kepada pelayan anak.

Children of God you are the reason we come! Glorify His name. Amen. (TIMBENGKELPK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *